25 Agustus 2013 merupakan hari dimana aku tak tahu dimana dan bagaimana keadaan tempat yang akan aku tuju. Yang aku tahu, aku pergi kesana untuk mengenal orang-orang disana dan sedikit membantu dengan ilmu yang selama ini aku dapatkan. Hari itu aku sampai setelah maghrib di Kampung Simpang Tiga, Desa Kebon Cau, Lebak, Banten. Perjalanan yang ditempuh cukup panjang dan sulit, namun semua itu terbayar ketika orang-orang kampung menyambut kami dengan hangat. Acara pembukaan pun terus berjalan hingga selesai, tujuannya untuk memberitahukan warga mengenai acara kami, yaitu Desa Inspiratif. Kami berharap kedatangan kami ini menjadi inspirasi bagi warga di Desa Kebon Cau. Yap Desa Kebon Cau! Desa ini ternyata dibagi menjadi tiga kampung: Simpang Tiga, Tanah Beureum, dan Nanggerang. Tim kami dibagi menjadi dua. Awalnya aku tidak tahu menahu mengenai hal ini tapi ya aku ikuti saja apa rencana panitia inti.
Malam itu, aku dan beberapa orang temanku langsung menuju ke Nanggerang. Dengan hanya diterangi sinar rembulan, mobil pick up yang membawa kami melaju di atas jalanan berbatu, tanpa aspal dan diapit oleh hutan. Perjalanan yang kami tempuh tidak lebih dari 30 menit, namun terasa sekali perbedaannya dengan kampung Simpang Tiga. Signal HP tiba-tiba menghilang entah kemana dan terasa sangat sepi. Hanya suara jangkrik yang dapat aku dengar saat itu. Padahal baru jam 9 malam, tetapi orang-orang sudah menuju tempat peraduan masing-masing. Keadaan yang sangat berbeda dari ibu kota negara yang rasanya selalu terjaga meski malam sudah larut.
Keesokan paginya aku terjaga oleh dinginnya udara pagi yang menusuk namun menyegarkan. Pada hari itu, kami baru ada acara pada sore hari karena ibu-ibu dan bapak-bapak disana pergi ke ladang setelah shalat subuh dan baru kembali setelah adzan asar. Oleh karena itu, aku dan beberapa temanku pergi jalan-jalan di sekitar kampung dan melihat anak-anak kecil yang akan pergi ke sekolah. Mereka bukan anak-anak yang bermain dengan gadget dan terlihat masih sangat polos. Meskipun orang-orang kampung, mereka terlihat cantik dan ganteng. Awalnya mereka masih malu-malu pada kami. Sebenarnya cukup sulit untuk berinteraksi dengan mereka karena beberapa diantara mereka masih ada yang belum bisa berbahasa Indonesia. Sekolah yang mereka tempati pun sangat memprihatinkan. Sekolahnya seperti yang ada di film Laskar Pelangi. Hanya ada dua ruang kelas disana, ruangan pertama untuk anak kelas1,2,dan 3. Ruangan kedua digunakan untuk anak kelas 4,5, dan 6. Lantainya belum berubin dan dindingnya pun masih terbuat dari bilik bambu. Tidak ada toilet di sekolah itu, jadi anak yang ingin buang air langsung menuju ke belakng sekolah dan "melakukannya" disitu. Buku-buku pelajaran yang ada sudah sangat tidak layak pakai karena sudah banyak bagian yang hilang. Staff pengajarnya pun bukan guru asli, hanya tiga orang volunteer yang tidak setiap hari hadir.
Semua keterbatasan yang mereka hadapi tidaklah menjadi penghalang bagi mereka untuk bercita-cita tinggi. Ada seorang anak, Iman namanya. Tidak seperti yang lain, saat pertama kami datang dia tidak malu-malu dan selalu berani menjadi yang pertama tunjuk tangan. Anak laki-laki Pak Sekdes ini bertunuh mungil dan bertempat tinggal cukup jauh dari sekolah. Saat kami bertanya "Ayo ade-ade punya cita-cita ga?", kemudian dengan lantangnya Iman mengangkat tangan dan berkata "Saya ingin jadi preseiden ka". Anak yang luar biasa, bukan? Di desa terpencil yang kehidupannya sangat jauh dari sempurna, dia bercita-cita setinggi itu. Subhanallah
Di kampung ini bukan hanya Iman yang memiliki cita-cita. Ada juga Muhdin, kami menyebutnya Nail Junior karena ketika tersenyum dia sangat mirip dengan teman kami yang bernama Nail. Senyumnya sangat manis. Dia bercita-cita menjadi pemain bola Pimnas. Semua ini berawal dari hobinya bermain bola. Hal ini terkesan simple tapi dia serius dengan cita-citanya ini dan aku harap suatu saat nanti aku bisa melihatnya di layar televisi sedang menggiring bola memakai kostum dengan lambang garuda di dadanya dan ikut berjuang dalam mengharumkan nama bangsa.
Selain mereka, masih banyak lagi anak-anak luar biasa seperti Ajun yang cerdas dengan suaranya yang merdu saat bershalawat, Anita si cantik yang pemalu dan pintar, Atang si bandel yang pemberani, Deden yang meskipun matanya udah 5 watt tapi tetep semangat menimba ilmu dari kami, Nurbaeni si kecil yang manis dan imut-imut, serta Juhe (a.k.a. Juheri), Nur, dan Hedi yang selalu ramah dan tidak pernah absen mengatakan "Hi" padaku, dan masih banyak lagi. Mereka semua bagaikan mentari terbit yang aku lihat di Nanggerang, terus naik perlahan keluar dari balik gunung, memberi warna yang indah pada sang mega, dan menyinari semesta ini dengan warnanya yang cerah.
Mereka semua adalah warna yang cerah dalam hidupku yang menjadi inspirasiku untuk terus menjadi yang lebih baik.